← Kembali ke Gagasan
PENA · Refleksi

Mengapa Saya Kembali Menjadi Penyuluh?

Saya kira saya sedang mencari alasan untuk pergi. Ternyata, saya sedang diberi alasan untuk kembali.

Pertemuan selepas salat Jumat — Mengapa Saya Kembali Menjadi Penyuluh?

Ada masa ketika saya bertanya kepada diri sendiri:

“Masihkah saya ingin menjadi Penyuluh?”

Pertanyaan itu tidak muncul ketika semuanya baik-baik saja.

Justru muncul ketika saya sedang lelah.

Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari birokrasi, menjalani berbagai penugasan, berpindah tempat, bertemu banyak orang, menghadapi berbagai persoalan, ada satu titik ketika saya mulai bertanya: Apakah saya masih ingin melanjutkan semua ini?

Bahkan, sempat terlintas keinginan untuk berhenti. Untuk resign.

Bukan karena saya membenci pekerjaan sebagai abdi negara. Bukan pula karena saya tidak bersyukur. Mungkin saya hanya sedang lelah.


Dan pada saat seperti itu, sebuah peristiwa sederhana justru datang.

Hari itu, selepas salat Jumat, saya bertemu dengan seorang khatib yang kebetulan sudah saya kenal. Kami kemudian berbincang. Entah bagaimana, saya akhirnya ikut berkumpul bersama beberapa jamaahnya.

Tidak ada acara resmi. Tidak ada agenda yang saya siapkan. Hanya sebuah pertemuan biasa selepas salat Jumat.

Kami duduk bersama. Bersila. Berbincang tentang banyak hal. Tentang kehidupan. Tentang pekerjaan. Tentang apa yang sedang kami jalani.

Sampai kemudian, di tengah percakapan itu, seseorang berkata kepada saya:

“Kalau Pak Tri enak, kerjaannya amar ma’ruf nahi munkar....”

Saya tersenyum.

Kalimat itu sederhana. Bahkan mungkin bagi orang yang mengucapkannya, itu hanyalah sebuah komentar biasa.

Tetapi bagi saya, kalimat itu seperti mengetuk sesuatu yang selama ini sedang saya lupakan.

Penyuluh.

Tiba-tiba saya kembali mengingat siapa diri saya. Bukan sekadar jabatan. Bukan sekadar pekerjaan. Bukan sekadar status sebagai seorang ASN. Tetapi tentang apa yang selama ini saya kerjakan dan untuk apa saya menjalaninya.


Saya kemudian berpikir: mungkin selama ini saya terlalu sering melihat pekerjaan dari sisi bebannya. Targetnya. Administrasinya. Rutinitasnya. Persoalannya. Kelelahannya.

Sampai lupa melihat sisi lain yang jauh lebih besar.

Bahwa seorang Penyuluh sebenarnya diberi kesempatan untuk bertemu manusia. Mendengar cerita mereka. Menyampaikan kebaikan. Mengingatkan ketika seseorang mulai salah arah. Menguatkan ketika seseorang hampir menyerah.

Dan terkadang, mungkin hanya dengan satu kalimat sederhana, kita bisa membuat seseorang berpikir ulang tentang hidupnya.

Bukankah itu pekerjaan yang sangat manusiawi?

Dan mungkin... sangat berarti.


Saya tidak tahu apakah jamaah itu menyadari apa yang sedang terjadi dalam diri saya saat itu.

Mereka mungkin tidak tahu bahwa saya sedang berada dalam kegundahan. Mereka tidak tahu bahwa saya sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai abdi negara.

Mereka juga tidak tahu bahwa kalimat sederhana itu justru menjadi salah satu percikan semangat yang saya butuhkan.

Tetapi mungkin memang begitu cara Tuhan bekerja. Tidak selalu melalui sesuatu yang besar.

Kadang melalui pertemuan yang tidak direncanakan. Melalui orang yang baru kita kenal. Melalui percakapan selepas salat Jumat. Bahkan melalui satu kalimat yang diucapkan tanpa maksud memberikan nasihat.

Dan tiba-tiba... kita menemukan kembali alasan untuk bertahan.


Hari ini saya semakin memahami bahwa kembali menjadi Penyuluh bukan semata-mata soal kembali ke sebuah pekerjaan.

Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Saya seperti sedang kembali kepada bagian diri saya yang pernah saya tinggalkan. Kembali kepada ruang di mana saya bisa berbicara dengan masyarakat. Kembali kepada dunia di mana pengalaman, ilmu, kegagalan, dan perjalanan hidup saya dapat dibagikan kepada orang lain.

Kembali kepada pekerjaan yang memungkinkan saya hadir bukan hanya sebagai pegawai, tetapi sebagai manusia yang menemani manusia lain.

Dan mungkin itulah alasan saya kembali.

Bukan karena pekerjaan ini selalu mudah. Justru saya tahu, pekerjaan ini tidak mudah.

Amar ma’ruf nahi munkar bukan pekerjaan yang selalu membuat kita disukai. Kadang kita harus menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar. Kadang kita harus masuk ke persoalan yang rumit. Kadang niat baik pun bisa disalahpahami.

Tetapi bukankah kebaikan memang tidak selalu membutuhkan tepuk tangan?


Saya kemudian teringat kembali pertemuan sederhana selepas Jumat itu.

Sebuah lingkaran kecil. Orang-orang duduk bersila. Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada acara besar. Hanya percakapan antarmanusia.

Tetapi dari lingkaran kecil itu, saya mendapatkan sesuatu yang mungkin jauh lebih besar: sebuah pengingat.

Bahwa mungkin saya belum selesai. Bahwa mungkin masih ada orang yang harus saya temui. Masih ada cerita yang harus saya dengarkan. Masih ada anak muda yang perlu dikuatkan. Masih ada keluarga yang perlu diberi pemahaman.

Masih ada masyarakat yang membutuhkan seorang Penyuluh yang mau datang, duduk bersama, dan berbicara dari hati ke hati.

Dan mungkin... saya masih dibutuhkan di sana.


Maka ketika hari ini saya kembali menjalani tugas sebagai Penyuluh, saya tidak ingin melihatnya hanya sebagai “kembali bekerja.”

Saya ingin melihatnya sebagai kesempatan kedua untuk mengabdi.

Kesempatan untuk menggunakan apa yang sudah saya pelajari selama perjalanan hidup. Kesempatan untuk menjadikan pengalaman sebagai bekal. Kesempatan untuk mengubah luka menjadi kebijaksanaan.

Dan kesempatan untuk menyadari bahwa setiap pertemuan dengan manusia mungkin membawa misi yang tidak kita ketahui sebelumnya.

Saya tidak tahu sampai kapan perjalanan ini akan berlangsung. Tetapi untuk saat ini, saya ingin menjalaninya dengan sepenuh hati.

Karena ternyata... kadang kita tidak membutuhkan alasan yang besar untuk kembali.

Kita hanya membutuhkan seseorang yang, tanpa sengaja, mengingatkan kita:

“Pak Tri, kerjaannya amar ma’ruf nahi munkar....”

Dan mungkin kalimat sederhana itu adalah cara Tuhan berkata kepada saya:

“Jangan buru-buru pergi. Masih ada yang harus kamu kerjakan.”
“Saya kira saya sedang mencari alasan untuk pergi.
Ternyata, saya sedang diberi alasan untuk kembali.”